Sabtu, 14 Januari 2012

Keraton Kasepuhan Cirebon

Keraton Kasepuhan cirebon





Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506, beliau bersemayam di dalem Agung Pakungwati Cirebon.Keraton Kasepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati, sedangkan Pangeran Mas Mochammad Arifin bergelar Panembahan Pakungwati I. Dan sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Putri itu cantik rupawan berbudi luhur dan bertubuh kokoh serta dapat mendampingi suami, baik dalam bidang Islamiyah, pembina negara maupun sebagai pengayom yang menyayangi rakyatnya.
Ahkirnya beliau pada tahun 1549 wafat dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua, dari pengorbanan tersebut akhirnya nama beliau diabadikan dan dimulyakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan.

Koleksi Museum
 

Gambar berikut menunjukkan koleksi alat-alat musik degung milik kraton kasepuhan yang merupakan hadiah dari sultan Banten yang menunjukkan hubungan penguasa Cirebon dengan penguasa Banten saat itu yang sama-sama didirikan pada masa kejayaan penguasa-penguasa Islam di Jawa. Di dalam deretan perlengkapan alat musik tersebut, terdapat alat musik rebana peninggalan sunan Kalijaga. Di sini kita bisa melihat percampuran antara tradisi Arab dan Jawa berpadu dalam proses penyebaran agama Islam di Jawa pada masa itu.

Di dalam koleksi museum kraton kasepuhan lain yang menarik yang ditampilkan dalam gambar dibawah ini adalah kereta kuda, meriam portugis, tandu permaisuri dan relief kayu yang menggambarkan persenggamaan antara laki-laki dan perempuan yang melambangkan kesuburan. Dalam kaitan ini, kita bisa melihat bagaimana pengaruh tradisi Hindu-Budha dalam sejarah pra-kolonial Jawa masih bertahan di dalam era kekuasaan raja-raja Islam di Jawa. Meriam portugis yang menjadi bagian koleksi museum kraton kasepuhan juga menunjukkan bagaimana hubungan sultan Cirebon tersebut dengan kekuatan maritim Eropa yang mulai merambah jalur perdagangan rempah-rempah di Nusantara pada abad 16 dan
 
Kereta singa barong


Kereta Singa Barong yang sampai kini masih terawat bagus itu, merupakan refleksi dari persahabatan dengan bangsa-bangsa. Wajah kereta ini merupakan perwujudan tiga binatang yang digabung menjadi satu, gajah dengan belalainya, bermahkotakan naga dan bertubuh hewan burak. Belalai gajah merupakan persahabatan dengan India yang beragama Hindu, kepala naga melambangkan persahabatan dengan Cina yang beragama Buddha, dan badan burak lengkap dengan sayapnya, melambangkan persahabatan dengan Mesir yang beragama Islam.

Koleksi keris   
 
Koleksi keris kuno yang disimpan di Museum Kereta Singa Barong Keraton Kasepuhan. Sayang sekali bahwa kondisi Museum Kereta Singa Barong, serta benda-benda koleksi di dalamnya, tidak jauh berbeda dengan kondisi di Museum Benda Kuno. Kedua museum ini sudah memerlukan perbaikan dan perawatan yang memadai, serta penataan benda-benda koleksi secara lebih baik.
SILSILAH SULTAN KASEPUHAN CIREBON


1. Pangeran Pasarean
2. Pangeran di Jati Carbon
3. Panembahan Ratu
4. Pangeran di Jati Carbon
5. Panembahan Girilaya
6. Sultan Raja Syamsudin
7. Sultan Raja Tajularipin Jamaludin
8. Sultan Sejuh Raja Jaenudin
9. Sultan Sepuh Raja Suna Moh Jaenudin
10. Sultan Sejuh Safidin Matangaji
11. Sultan Sejuh Hasanudin
12. Sultan Sepuh I
13. Sultan Sejuh Raja Samsudin I
14. Sultan Sejuh Raja Samsudin II
15. Sultan Sepuh Raja Ningrat
16. Sultan Sepuh Jamaludin Aluda
17. Sultan Sejuh Raja Rajaningrat
18. Sultan Pangeran Raja Adipati H. Maulana Pakuningrat, SH
19. Sultan Pangeran Raja Adipati Arif Natadiningrat


"Siraman Panjang Jimat" di Keraton Kasepuhan Cirebon

 
keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, Kamis, melakuan "Siraman panjang jimat," yang merupakan rangkaian kegiatan tahunan sebelum "mauludan", yakni mencuci barang-barang pusaka, berupa piring, guci dan botol yang berumur ratusan tahun.
"Benda-benda pusaka itu akan dipakai sebagai wadah bahan-bahan pada hari H maulid Nabi Muhammad SAW dan dicuci setahun sekali saat akan digunakan," kata Lurah Keraton Kasepuhan Muhammad Maskun kepada wartawan di Cirebon, Kamis.
Ia merinci, piring yang dicuci tersebut berupa tujuh piring besar, 28 piring kue, dua botol tempat air mawar dan dua guci.
Air yang digunakan untuk menyiram diambil dari Sumur Kejayan dan Sumur Agung yang ada di dalam keraton.Makna penyucian tersebut, sebagaimana barang akan dipakai harus disucikan terlebih dahulu.
Barang-barang tersebut sehabis dipakai pada Maulid Nabi akan disimpan dan akan dikeluarkan kembali pada Maulid Nabi tahun depan.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

selamat datang

anda dapat menemukan dan mengetahui tentang cirebon dan budaya disini..selamat bergabung.......!!

MUSIC

Get Free Music at www.divine-music.info
Get Free Music at www.divine-music.info

Free Music at divine-music.info

Assalakualaikum warahmatullahi wabarokattuh....................

Puji syukur kepada Allah atas Rahmat dan hidayah dan inayahnya atas terciptanya blog ini, atas tuntutan tugas mata kuliah ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR dan untuk memperkenalkan Blog CIREBON KAYA AKAN BUDAYA kepada seluruh masyarakat indonesia maupun mancanegara...................

Sabtu, 14 Januari 2012

Keraton Kasepuhan Cirebon

Keraton Kasepuhan cirebon





Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506, beliau bersemayam di dalem Agung Pakungwati Cirebon.Keraton Kasepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati, sedangkan Pangeran Mas Mochammad Arifin bergelar Panembahan Pakungwati I. Dan sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Putri itu cantik rupawan berbudi luhur dan bertubuh kokoh serta dapat mendampingi suami, baik dalam bidang Islamiyah, pembina negara maupun sebagai pengayom yang menyayangi rakyatnya.
Ahkirnya beliau pada tahun 1549 wafat dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua, dari pengorbanan tersebut akhirnya nama beliau diabadikan dan dimulyakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan.

Koleksi Museum
 

Gambar berikut menunjukkan koleksi alat-alat musik degung milik kraton kasepuhan yang merupakan hadiah dari sultan Banten yang menunjukkan hubungan penguasa Cirebon dengan penguasa Banten saat itu yang sama-sama didirikan pada masa kejayaan penguasa-penguasa Islam di Jawa. Di dalam deretan perlengkapan alat musik tersebut, terdapat alat musik rebana peninggalan sunan Kalijaga. Di sini kita bisa melihat percampuran antara tradisi Arab dan Jawa berpadu dalam proses penyebaran agama Islam di Jawa pada masa itu.

Di dalam koleksi museum kraton kasepuhan lain yang menarik yang ditampilkan dalam gambar dibawah ini adalah kereta kuda, meriam portugis, tandu permaisuri dan relief kayu yang menggambarkan persenggamaan antara laki-laki dan perempuan yang melambangkan kesuburan. Dalam kaitan ini, kita bisa melihat bagaimana pengaruh tradisi Hindu-Budha dalam sejarah pra-kolonial Jawa masih bertahan di dalam era kekuasaan raja-raja Islam di Jawa. Meriam portugis yang menjadi bagian koleksi museum kraton kasepuhan juga menunjukkan bagaimana hubungan sultan Cirebon tersebut dengan kekuatan maritim Eropa yang mulai merambah jalur perdagangan rempah-rempah di Nusantara pada abad 16 dan
 
Kereta singa barong


Kereta Singa Barong yang sampai kini masih terawat bagus itu, merupakan refleksi dari persahabatan dengan bangsa-bangsa. Wajah kereta ini merupakan perwujudan tiga binatang yang digabung menjadi satu, gajah dengan belalainya, bermahkotakan naga dan bertubuh hewan burak. Belalai gajah merupakan persahabatan dengan India yang beragama Hindu, kepala naga melambangkan persahabatan dengan Cina yang beragama Buddha, dan badan burak lengkap dengan sayapnya, melambangkan persahabatan dengan Mesir yang beragama Islam.

Koleksi keris